Flora

Seperti Apa Bentuk Kerangka Kerja (Frame Work) Transformasi Digital?

Kerangka kerja atau frame work transformasi digital adalah formalisasi rencana tentang bagaimana dan kapan sebuah perusahaan akan membuat pembaruan atas core bisnis dan sistem yang ada di dalamnya. Dengan membuat perencanaan yang baik, perusahaan dapat mengantisipasi perubahan yang terjadi di sekitar lingkungan bisnisnya.

MIT Sloan Management Review menyimpulkan hasil risetnya tentang latar belakang perlunya sebuah perusahaan menyusun frame work atau kerangka kerja dalam transformasi digital:

  • Digitalisasi berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan industri untuk berkembang
  • Teknologi memang mendorong perubahan, namun permintaan konsumen memberi tekanan yang sama besarnya bagi perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat
  • Banyak perusahaan yang masih kesulitan dalam transfromasi digital
  • Perusahaan yang mengesampingkan transformasi digital akan kehilangan peluang
framework transformasi digital

Image by Malachi Witt on Pixabay

Banyak perusahaan yang mulai bertransformasi dan saat ini sampai di pertengahan jalan, namun setengah yang mereka lalui hanya sampai pada perubahan teknologi. Bagaimanapun, mereka kesulitan dalam memenuhi paruh akhir dari transformasi digital, yaitu implementasi budaya dan pola pikir digital di intenal perusahaan.

Memahami Contoh Kerangka Kerja (Frame Work)

Kerangka kerja atau frame work dibuat untuk mempermudah proses transisi teknologi dan internalisasi nilai agar perusahaan dapat bertransformasi digital secara menyeluruh. Berikut ini contoh kerangka kerja yang harus direncanakan dengan baik:

  • Kepemimpinan yang efektif

Pimpinan-pimpinan dalam bisnis atau perusahaan harus aktif mendorong transformasi digital dalam perusahaan. Pengambilan keputusan harus didasarkan pada data dan dilakukan dengan cepat. Selain mengefektifkan arus komunikasi internal dengan memanfaatkan teknologi, pimpinan wajib terus mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dalam perkembangan teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan performa bisnis.

contoh kerangka kerja transformasi digital

Image by William Iven on Pixabay

  • Strategi sebelum teknologi

Teknologi hanyalah alat dalam transformasi digital. Untuk dapat menentukan teknologi mana yang dibutuhkan, perusahaan perlu membuat strategi. Strategi berasal dari evaluasi proses bisnis yang selama ini sudah berjalan dan pertimbangan kemungkinan peluang yang bisa dioptimalkan dengan bantuan teknologi. Sedangkan bagi bisnis yang baru terbentuk, strategi diawali dengan membuat model bisnis yang cocok.

  • Dorongan untuk pembentukan budaya internal yang baru

Inti dari transformasi digital dalam bisnis adalah kesadaran atas perubahan budaya akibat kemajuan teknologi dan bagaimana teknologi bisa membantu meraih peluang bisnis. Setiap bagian dari perusahaan harus paham atas arus informasi internal dan eksternal dan beradaptasi dengan kebutuhan atas kecepatan yang diakibatkannya. Prosedur atau birokrasi perusahaan yang berbelit-belit tidak sesuai dengan semangat transformasi digital yang salah satu tujuannya adalah efisiensi operasional.

  • Prioritas utama pada konsumen

Entry barrier dalam bisnis berkurang. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan atas produk dan layanan. Di masa ekonomi digital, yang mampu mengakuisisi konsumen paling banyaklah yang memenangkan kompetisi. Caranya dengan kelihaian perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Baik produk yang tepat, kualitas yang baik, layanan yang memuaskan, dan transaksi yang mudah, dan penyampaian produk/layanan yang cepat menjadi faktor loyalitas konsumen. Karenanya transformasi digital tidak hanya tentang pergantian teknologi, tapi bagaimana mengoptimalkan teknologi yang ada untuk memaksimalkan nilai tambah produk dan layanan di mata konsumen.

  • Reaktif pada perubahan

Sebuah entitas bisnis harus memikirkan mengapa dan bagaimana merespon secara strategis perkembangan teknologi di sekitarnya. Perkembangan tersebut bisa menjadi peluang, tapi juga bisa menjadi ancaman. Perilaku konsumen dan kebiasaan mereka ikut berubah bersama dinamika teknologi.

Sebuah perusahaan misalnya sudah memetakan strategi pemasaran untuk beberapa minggu ke depan. Strategi ini bisa jadi di minggu depan sudah tidak relevan karena ada perubahan langsung di faktor-faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal misalnya perubahan regulasi pemerintah, investor, algoritma mesin pencarian, atau pandemi seperti yang saat ini tengah dirasakan semua bidang usaha. Faktor internal misalnya perubahan di struktur organisasi, prioritas layanan, sistem, dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini wajib dianalisis dan ditanggapi secepatnya.

jasa digital marketing di Jakarta

Image by Michal Jarmoluk on Pixabay

  • Inovasi

Reaktif pada perubahan tidak berarti sebuah bisnis menjadi pihak yang pasif dalam transfromasi digital. Ia bisa jadi juga menjadi disruptor atau penyabab disrupsi, bahkan dalam bisnisnya sendiri Dan inovasi bukan tentang update teknologi terbaru. Hanya dengan melalui konvergensi inovatif atas teknologi, sebuah perusahaan bisa bertransformasi dalam bisnis model maupun cara menjalankan bisnis.

Inovasi mendorong perusahaan untuk terus menemukan peluang-peluang baru dalam menjalankan bisnis. Dalam berinovasi, khususnya pimpinan-pimpinan perusahaan atau pelaku bisnis perlu membayangkan (bahkan mencita-citakan) masa depan.

Media sosial berkembang berangkat dari imajinasi bahwa suatu ketika orang-orang dapat beinteraksi secara bebas tanpa batasan jarak, waktu, dan biaya. Marketplace berkembang dengan cita-cita membuat pasar virtual dimana pembeli dan penjual bisa bertransaksi dengan mudah, cepat, dan aman. Demikian juga platform lainnya. Jasa digital marketing di Jakarta dimulai dengan membayangkan kemudahan bagi pelaku bisnis untuk mempromosikan produk dan layanannya kepada konsumen yang tepat sesuai niche-nya. Dalam inovasi tersebut ada kebutuhan dan masalah yang diselesaikan dengan menerapkan teknologi yang tepat dalam strategi bisnis yang dibuat.

Post A Comment